Tag

broker curang

Browsing

Praktik tidak beretika di dunia investasi masih banyak terjadi. Dalam transaksi di bursa berjangka (Multilateral dan Bilateral), pihak yang memfasilitasi nasabah untuk melakukan transaksi disebut pialang alias broker. Perkembangan Industri Brokerage di Indonesia saja diwarnai dengan malpraktek dari broker yang “nakal” meski terdaftar dan memiliki ijin resmi dari BBJ dan Bappebti. Berikut ini pola-pola tidak etis yang sering dilakukan Broker nakal:

Metode Pemasaran yang Sangat tidak Beretika

Mayoritas keluhan masyarakat bersumber dari fakta bahwa tenaga pemasaran yang digunakan oleh perusahaan pialang adalah para oportunis yang tidak memahami esensi perdagangan berjangka dan kosong pengetahuan tentang etika bisnis. Akibatnya banyak sekali nasabah yang terbujuk bertransaksi, padahal mereka tidak tahu, belum siap dan bahkan secara finansial belum layak untuk ikut bertransaksi.

Broker Curang Melakukan Praktek Bucketing

Praktek Bucketing dilakukan dengan mengurangi atau mengecilkan porsi transaksi nasabah yang seharusnya dengan tujuan menguntungkan broker sendiri. Ilustrasi praktek Bucketing yang sering terjadi di perusahaan pialang lokal:

Nasabah memasukkan sejumlah dana Rp 500 juta sementara hanya Rp 100 juta yang dicatat di kliring, sedangkan sisanya ditampung pialang. Transaksi ini tidak dalam skema yang benar. Dengan praktik curang seperti itu, nasabah selalu dirugikan karena dana yang ia setor terkadang kembali lagi namun dalam kondisi rugi atau bahkan tidak balik sama sekali. Nasabah sebaiknya jangan sepenuhnya memberikan kepercayaan kepada pialang atau broker, kalau pun harus pakai jasa broker atau pialang tetap harus dipantau laporannya secara rinci.

Broker nakal yang ketahuan melakukan praktek Bucketing bisa dibekukan kegiatan operasinya. Biasanya broker nakal akan memberikan nomor rekening segregated account yang tidak terdaftar di Kliring Berjangka Indonesia (KBI) atau rekening segregated account palsu. Untuk melihat nomer segregated account yang terdaftar di KBI dapat dilihat di halaman website PT Kliring Berjangka Indonesia (www.ptkbi.com)

Broker Memanfaatkan Kelemahan Sistem Perdagangan

Karena BBJ, BKDI dan KBI belum mampu menyediakan platform sistem perdagangan yang memenuhi syarat, para penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif mengembangkan sendiri teknologi transaksinya masing-masing. Broker yang nakal bisa memanfaatkan kelemahan ini dengan tidak memberikan akses kepada nasabah terhadap posisi terbuka dan posisi dananya, transaksi sering tidak dilaporkan kepada nasabah, sistim bisa “diset” sedemikian rupa untuk keuntungan pemilik sistim secara tidak fair.

Untuk menghindari malpraktek oleh Broker nakal, anda harus selalu kritis terhadap segala penawaran produk oleh Broker, jangan terbujuk keuntungan yang besar. Pilih broker yang memberikan layanan terbaik, transparan, penawaran harga yang terbaik, biaya transaksi yang kompetitif, kemudahan untuk penarikan dana dan pilih broker yang selalu memberikan laporan posisi dana nasabah ketika anda bertransaksi.

Hal-Hal Sederhana yang dapat Anda Lakukan Dalam Memilih Broker:
  1. Jangan cepat percaya dengan janji memperoleh keuntungan besar;
  2. Kenali pihak yang menemui anda (minta nomor-nomor telepon yang dapat menghubunginya);
  3. Minta nomor izinnya dan periksakan ke BAPPEBTI;
  4. Minta nama perusahaan pialang yang menugasinya;
  5. Pelajari dokumen profil perusahaan pialang tersebut berikut dengan kinerjanya;
  6. Pelajari dokumen pemberitahuan adanya risiko;
  7. Pelajari dokumen kesepakatan nasabah;
  8. Minta nomor rekening khusus untuk nasabah;
  9. Minta sistem pengawasan dan penyelesaian pengaduan nasabah;
  10. Teliti bagaimana pembukaan margin anda dibuat;
  11. Pelajari karakteristik perdagangan produk yang dipilih.

 

Dalam beberapa kasus seringkali trader menyalahkan brokernya ketika hasil tradingnya tidak seperti yang diharapkan. Namun apakah broker yang salah atau karena faktor ketidaktahuan kita? Pada artikel ini saya ingin menjelaskan beberapa hal fundamental tentang online trading.

Penjual, Pembeli dan Stok Quota Barang

Trading Forex dan CFD adalah seperti berdagang pada umumnya, dan berdagang pasti melibatkan unsur Penjual dan Pembeli. Bila ada barang yang dibeli maka pasti ada yang menjualnya, demikian juga sebaliknya. Dan ketersediaan barang juga bukan berarti Unlimited, tetapi juga ada kuantitasnya (quota stoknya). Faktor Demand dan Supply berperan penting disini.

Jika barang yang ingin anda beli tidak ada ataupun sudah habis (kehabisan jatah), maka anda tentu saja tidak akan bisa membelinya, atau harus menunggu antriannya. Demikian juga ketika anda menjual tetapi tidak ada pembelinya (atau pembelinya sudah habis), maka anda juga tidak akan bisa menjualnya kecuali menunggu pembeli baru datang lagi.

Demikian juga apabila harga di pasaran telah berubah maka anda juga harus mengikutinya bila ingin bertransaksi. Contoh: Penjual menawarkan di harga 100, padahal anda ingin membeli di harga 90, Hal ini tidak akan bisa Deal bila tidak terjadi kesepakatan. Disinilah tugas sistem broker untuk menengahi permasalahan ini agar bisa terjadi Deal secara Otomatis dengan suatu terms and condition-nya.

Nah, hal-hal diatas tersebut adalah kondisi dasar yang harus anda pahami terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman.

 

Broker Dealing Desk dan Non – Dealing Desk

Pentingnya disini anda harus memahami jenis Broker yang berjenis dealing desk dan non dealing desk serta Sistem Perdagangan Alternatif (jika menggunakan broker teregulasi Bappepti). Perdagangan forex dan CFD adalah perdagangan yang sifat nya Over The Counter (OTC) atau Perdagangan Bilateral. Perdagangan jenis ini bersifat tertutup, tidak seperti perdagangan melalui bursa yang lebih transparan. Karena sifatnya yang tertutup seringkali terjadi kecurangan yang merugikan nasabah. Oleh karena itu peran Lembaga Pengawas sangat penting disini.

Apakah Broker Non Dealing Desk berjenis ECN dan STP lebih baik dari Broker Dealing Desk ?

Pertama kali yang harus anda perhatikan ketika memilih broker baik berjenis Dealing Desk ataupun berjenis Non Dealing Desk adalah, pastikan broker tersebut teregulasi dengan benar. Ketika anda menempatkan dana anda di broker yang tidak teregulasi dengan benar sudah dapat dipastikan dana anda di-bucketing oleh si broker.

Masih ada anggapan broker Non Dealing Desk lebih baik dari Dealing Desk, menurut saya baik atau tidaknya broker bukan dari jenisnya apakah dia Dealing Desk atau pun Non Dealing Desk. Forex dan CFD market adalah pasar OTC yang tertutup, menggunakan broker berjenis Dealing Desk ataupun Non Dealing Desk tidak menjamin trader tidak akan dicurangi. Broker teregulasi CFTC (Amerika) dan FCA (UK) yang memiliki reputasi baik pun beberapa kali dikenakan sanksi dan denda karena terbukti melakukan kecurangan yang merugikan nasabah. Meskipun demikian, perdagangan di dengan sistem OTC tetap menjadi pilihan bagi sebagian orang karena memiliki keunggulan yang tidak ada di sistem bursa seperti jam perdagangan 24 jam, eksekusi cepat, produk yang diperdagangkan secara internasional, volatilitas tinggi, bisa menggunakan berbagai macam strategi trading, fleksibilitas, dsb.

Broker Dealing Desk memiliki stock atau persediaan harga yang terbatas sesuai dengan kekuatan modal yang dimilikinya, sehingga tidak setiap hari bisa menawarkan harga yang terbaik di setiap produknya bagi nasabah.

Broker Non Dealing Desk (STP dan ECN) bekerjasama dengan pihak ke tiga atau liquiditor / provider (biasanya investment bank). Penawaran harga ke nasabah juga tergantung dari persediaan harga yang dimiliki oleh provider mereka, dan belum tentu juga provider bisa menyediakan harga terbaik setiap harinya. Itulah mengapa anda akan menemukan harga yang berbeda-beda pada setiap broker yang bisa dilihat pada platform trading yang mereka sediakan.

Memilih broker bisa menjadi hal yang membingungkan bagi trader, saya sendiri menyarankan ketika anda memilih broker pilihlah broker yang teregulasi dengan benar (bukan broker bucket shop), pilihlah sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan besarnya dana anda.

Disamping itu, perhatikan juga faktor regulasinya, karena regulasi ini berfungsi sebagai badan pengawas suatu broker agar tidak berbuat curang yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Bila anda sudah paham mengenai persoalan cara kerjanya, maka berikut adalah Kondisi dan Istilah yang harus anda ketahui artinya :

Slippage

Slippage di setiap trading forex dan CFD pasti bisa terjadi, karena ketidaktersediaan harga di posisi yang kita pesan tersebut, terutama posisi untuk pending order (terutama pending order yang bersifat STOP, yaitu Stop Buy, Stop Sell , termasuk Stop Loss). Jadi order yang kita pesan bisa meleset akibat adanya perubahan yang sebenarnya di pasar.

Contoh: misalkan anda memasang pending order di harga 100, tetapi karena terjadi berita penting maka harga di pasar bergerak melompat atau sangat kencang (tegak lurus) ke harga 115. Nah broker pasti akan menjalankan order anda di harga 115 tersebut dan bukan di 100, karena ketidaktersediaan harga di 100 tersebut, yang dimana tidak mungkin broker memaksakan untuk mengambil di harga 100 tersebut yang semestinya di pasar tidak ada. Tetapi jika harga 100 tersebut memang ada dan tidak habis stok quotanya maka anda bisa mendapatkannya di posisi angka tersebut. Broker yang curang bisanya akan melakukan Slippage yang berlebihan atau tidak wajar.

Requote

Requote juga hampir mirip dengan Slippage, tetapi bedanya adalah Slippage berlaku untuk pending order, sedangkan Requote berlaku untuk eksekusi yang dilakukan saat itu juga di market (Instant Executions). Broker pasti akan mengkonfirmasi bila harga yang kita pesan tersebut ternyata sudah lewat ataupun telah kehabisan quota.

Selain itu hal requote ini bisa terjadi karena faktor kecepatan koneksi internet yang menyebabkan tidak terkejarnya antara kecepatan pergerakan harga dan perintah ordernya.

Sedangkan untuk broker yang mengklaim bahwa tidak ada requote di tempatnya, namun menggunakan Instant Execution maka itu jangan dikira benar-benar tanpa requote, tetapi requote-nya digantikan dengan delay eksekusi (penundaan) , jadi ketika sebenarnya terjadi requote maka di broker tersebut akan terjadi penundaan eksekusi order, sehingga order bisa terkesan lama sekali baru masuk. Hal ini terjadi karena penyesuaian tersebut.

Masalah requote ini diatasi dengan Market Execution, dimana trader tidak akan mengalami requote dengan term and condition yang berlaku.

Pelebaran Spread Bid Ask (Widen Spread)

Pelebaran spread di suatu broker kadangkala juga dapat terjadi dan itu wajar sebenarnya, terutama bila keadaan hukum permintaan dan penawaran (demand dan supply) di pasar tidak seimbang sehingga bisa terjadi pelebaran selisih harga. Umumnya terjadi di broker yang mengenakan jenis spread fractional atau variable (spread yang tidak fixed dan selalu berubah-ubah).

Tetapi ada pula broker yang berjenis fixed spread (spread tetap), dan untuk broker yang fixed spread mereka biasanya tidak melebarkan spread asalkan spread yang di pasar masih di dalam batas toleransinya. (kalau diluar batas toleransinya maka broker fixed spread pun akan melakukan mark up harga demi keamanan liquiditasnya).

Pada umumnya pelebaran spread terjadi karena faktor berita, ataupun di saat pasar open (misalkan di saat subuh / pagi hari). Yang dimana hal ini sering mengakibatkan ketimpangan dalam demand dan supplynya di pasar.

Biasanya spread mata uang yang terkecil adalah yang berbasis EUR, contoh EUR/USD. Sedangkan untuk mata uang yang cross rate biasanya memiliki spread yang lebih besar.

Waspada dengan broker yang justru menawarkan fixed spread yang sangat kecil  Karena seperti yang anda ketahui bahwa spread di pasar yang sesungguhnya tidak mungkin selalu tetap. Akhirnya untuk broker yang fixed spread super kecil tersebut pasti ada permainan sesuatu yang untuk meng-covernya, biasanya broker jenis ini pasti akan mempermainkan transaksi anda untuk keuntungan mereka. (istilahnya di-nakali atau di-manipulasi , agar kelihatannya spread nya kecil, tetapi ketika eksekusi transaksi berlangsung maka akan sengaja diperlambat sehingga menjadi minus lebih banyak pada akhirnya). Masalah spread juga dapat dijadikan permainan broker yang tidak teregulasi benar (bucket shop).

Jadi sebelum bergabung di suatu perusahaan broker, anda juga harus menyelidiki dahulu dengan benar mekanismenya, supaya tidak hanya tergiur dengan kebombastisannya tetapi nyatanya ujung-ujungnya adalah dipermainkan oleh broker yang tidak benar tersebut, atau bahkan menjadi Scam.

Margin Call

Yaitu apabila Free Margin anda jatuh mendekati 100% (atau sesuai dengan peraturan level stop out brokernya) . Bila Margin Call maka open posisi order anda dapat ditutup otomatis oleh sistem broker. Hal ini bertujuan untuk mencegah account anda menjadi minus lebih dalam. Faktor ini umumnya sering terjadi di para Trader Newbie yang tidak paham mengenai perhitungan di Forex dan CFD, sehingga mereka mengira brokernya yang curang dengan menutup posisinya, padahal dia tidak sadar bahwa account dia terkena margin call akibat open posisi yang terlalu banyak ataupun menggunakan volume lot yang terlalu besar, ataupun sudah loss terlalu dalam sehingga uang yang tersisa tidak dapat menahan floating loss posisinya tersebut, dan akhirnya Margin Call (atau MC).

Selisih Harga (dari Running Price)

Antar broker A dengan broker B, broker C, dll biasanya pasti terdapat selisih harga runningnya, tetapi tidak berbeda jauh. Hal ini disebabkan karena liquiditor dan price feed yang mereka gunakan berbeda-beda, sehingga otomatis harga yang disediakan juga pasti ada perbedaan, tetapi tidak banyak.

Hal ini sama seperti anda melihat Kurs di Bank BCA dengan di Bank Danamon ataupun dibandingkan dengan Bank HSBC. Pasti ada perbedaan nilai kursnya, tetapi tidak terlalu jauh. Jadi perbedaan nilai kurs adalah masih dalam tahap wajar asalkan tidak berbeda terlalu signifikan.

 

WASPADA DENGAN BROKER CURANG YANG MEMANG SENGAJA !

Ada juga broker yang sengaja menerapkan requote dan slippage yang berlebihan (direkayasa) ataupun order anda akan diperlambat eksekusinya. Biasanya ini terjadi di broker bucket shop dan broker yang Tidak Teregulasi Benar, karena mereka mendapatkan uang dari kekalahan anda, sehingga otomatis mereka akan mempersulit dengan rekayasanya tersebut agar anda mudah kalah dan sulit untuk profit. Oleh karena itu pentingnya suatu regulator pemerintah yang benar adalah agar tidak terjadi hal-hal curang tersebut yang disengaja.

Regulator adalah bertugas mengawasi aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan broker agar tidak menyimpang dan berbuat tidak benar. Biasanya regulator mensyaratkan suatu perusahaan broker memberikan jaminan uang yang dipegang oleh pihak regulator pengawas sebagai jaminan bila terjadi pelanggaran ataupun denda di broker tersebut.

Ciri-ciri broker curang (bucket shop) adalah biasanya mereka memberikan banyak bonus di depan yang jumlahnya sangat besar dan menarik, contoh: bonus diatas 20% , bonus posting , dll dengan tujuan menarik minat (trik marketing) . Dan semakin besar bonusnya maka semakin berbahaya broker tersebut. Selain itu mereka memperbolehkan titip transfer dengan orang lain, titip IB /Agennya, melalui money changer, liberty reserve (LR) , webmoney, voucher, dan sejenisnya. Hanya broker bucket shop yang bisa seperti itu, dan praktek tersebut ilegal  (melanggar UU Anti Money Laundry).

Broker yang tidak benar juga biasanya tidak memerlukan verifikasi dokumen identitas yang memadai. Yang penting klien setor uang, bisa cepat bertrading, dan uang klien cepat habis dan akhirnya bisa cepat masuk ke kantong broker pula, ini harus diwaspadai.

Teknik Trading Terlarang

Di antara banyak strategi trading, ada pula suatu teknik trading yang terlarang , yang dimana bila ketahuan oleh pihak brokernya maka hal ini pasti akan di-void atau tidak diakui transaksinya, atau paling parah account anda akan diblok dan anda bisa diusir dari broker tersebut. Semua perusahaan broker pasti akan melarang penggunaan teknik trading seperti di bawah ini.

Contoh beberapa teknik trading terlarang yaitu:

  • Meng-hack / Mengakali suatu price feed broker dengan software tertentu.
  • Memanfaatkan 2 account swap (bunga) dan swap free untuk tujuan mendapatkan profit bunga dengan cara balancing di broker yang sama.
  • Arbitrase antara beberapa broker. Memasang pending order secara berlebihan, padahal posisi pending tersebut tidak dipakai ataupun sering bergonta-ganti angka pending order nya dalam frekuensi yang luar biasa banyak (misalkan anda memasang pending order sebanyak 30 pending sekaligus ataupun 100 pending sekaligus, ini jelas tidak boleh), apalagi jika equity anda sebenarnya tidak memungkinkan untuk hal tersebut.
  • Men-DDOS server broker (membuat Busy server). Dengan memaksa order dengan suatu program script ketika pasar sedang tutup.

Broker dapat mendeteksi bila dilakukan hal-hal semacam itu, karena sebenarnya di dalam sistem broker yang terbaru ada semacam software “anti virus” yang berguna untuk mendeteksi hal tersebut dan juga guna untuk memberi laporan kepada pihak regulator.

Dari penjelasan ini diharapkan anda dapat memahami mengenai online trading ini dan cara kerjanya, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman akibat tidak tahu cara kerjanya.

 

 

Penjelasan / Arti Stop Loss

Stop loss order adalah salah satu fitur atau fasilitas yang ada pada platform Metatrader yang sering kali dimanfaatkan oleh trader. Secara umum, stop loss adalah nilai batasan harga terendah yg ditentukan untuk membatasi kerugian. Saat pergerakan harga menyentuh nilai yang telah ditentukan ini, maka sistem secara otomatis akan menutup order atau posisi tersebut.

 

stop loss order di platform mt4

 

Dengan memasang stop loss ini berarti trader telah siap dengan kerugian. Bagi kebanyakan trader keputusan menaruh stop loss ini adalah pilihan yang tidak nyaman. Mengapa, karena itu berarti mereka telah menerima kerugian yang terjadi. Namun dengan memasang stop loss order dapat membatasi kerugian yang lebih dalam. Meskipun fitur ini dapat membantu trader, namun tidak semua trader menggunakan stop loss. Hal ini tergantung dari strategi dan pengetahuan yang digunakan oleh masing-masing trader.

 

Bagaimana Broker Menggunakan Stop Loss Hunting?

Dalam artikel ini saya tidak ingin membahas secara detail tentang teknik penentuan stop loss, yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana broker nakal (tidak semua broker) melakukan kecurangan dengan sebuah cara yang dengan sengaja broker akan menyentuh stop loss yang telah dipasang oleh nasabah/trader.

Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan apa yang dinamakan dengan Stop Loss Hunting.  Teknik Stop Loss Hunting adalah sebuah cara curang dan digunakan oleh broker nakal yang dengan sengaja akan membuat stop loss order yang telah dipasang oleh trader akan tersentuh dengan sengaja. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan sebuah program atau menggunakan orang-orang yang bertugas untuk mengawasi posisi stop loss yang telah diambil nasabah.

Bagaimana mengetahui apakah broker melakukan kecurangan? Untuk mengetahuinya saya ingin memberikan contoh berdasarkan pengalaman pribadi saya. Cara yang paling sederhana adalah dengan membandingkan 3 chart di platform trading broker yang berbeda.

 

Stop Loss Hunting Broker Curang 3
Tampilan di Platform Trading Broker A

 

Stop Loss Hunting Broker Curang 2 fx
Tampilan di Platform Trading Broker B

 

Stop Loss Hunting Broker Curang
Tampilan di Platform Trading Broker C

 

Dari tampilan chart platform trading di tiga broker diatas sekilas tidak memiliki perbedaan, namun jika diperhatikan lebih seksama tampilan di chart ke tiga atau di Broker C tampak berbeda dari tampilan di Broker A dan B. Perbedaannya terletak pada garis-garis tipis yang mengarah keatas.

 

Stop Loss Hunting Broker Curang 4

 

Nah disinilah Stop Loss Hunting bekerja, garis-garis yang mengarah keatas tersebut sebenarnya adalah Stop Loss Hunting, yang dengan SENGAJA menyentuh stop loss order dari para nasabah/trader yang telah dipasang. Hal ini saya jumpai di platform trading broker yang tidak teregulasi.

 

Tips untuk Menghindari Stop Loss Hunting

Stop Loss Hunting bisa menjadi hal yang sangat merugikan, terutama bagi trader yang sering menggunakan stop loss dalam menerapkan strategi trading-nya. Saya menemui kecurangan dengan Stop Loss Hunting ini pada broker yang tidak teregulasi. Pada kasus ini, saya tidak menyarankan bagaimana teknik atau strategi trading untuk menghindari Stop Loss Hunting. Ketika broker anda terbukti curang sebaiknya anda tidak melakukan aktivitas trading menggunakan broker yang telah terbukti curang. Saya lebih menyarankan untuk menggunakan broker yang jelas teregulasi dan diawasi oleh sebuah lembaga pengawas perdagangan berjangka.

Cara untuk mengetahui apakah broker anda teregulasi atau tidak adalah dengan memeriksa apakah broker anda teregulasi oleh lembaga pengawas perdagangan berjangka. Untuk di Indonesia, daftar perusahaan pialang/broker yang teregulasi dan diawasai oleh lembaga pengawas (Bappebti) dapat dilihat di website resmi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka (Bappebti) atau di Jakarta Futures Exchange di bagian Daftar Pialang.

Jika anda lebih nyaman dengan menggunakan broker luar pun tidak masalah, namun anda harus memastikan legalitas dari perusahaan pialang dimana pialang tersebut menjalankan aktivitas usahanya. Sebagai contoh, di Inggris dikenal dengan lembaga pengawas Financial Conduct Authority (FCA) dulu bernama Financial Service Authority (FSA) di Amerika Serikat dikenal dengan Commodity Futures Trading Commision (CFTC) dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Stop Loss Hunting adalah salah satu cara broker untuk mengalahkan trader, tentunya hal ini sangat merugikan. Di luar Stop Loss Hunting, masih ada beberapa teknik curang yang dilakukan oleh broker.

Hal yang tidak kalah penting, anda juga harus memahami mekanisme perdagangan berjangka, jenis-jenis broker dan kasus-kasus malpraktek yang marak terjadi di industri perdagangan berjangka terutama di Indonesia. Dalam artikel berikutnya saya akan menjelaskan lebih detail.