Tag

slider

Browsing

Setiap hari, transaksi senilai kurang lebih $5 Triliun USD dilakukan di pasar Forex seluruh dunia. Namun kebanyakan trader masih berfokus pada analisa seperti teknikal dan fundamental (rilis data). Hal lain yang tidak kalah penting yang harus diketahui oleh trader forex adalah mengetahui kondisi pasar (Market Condition). Bagaimana mengetahui kondisi pasar dapat membantu trader dalam pengambilan keputusan jual beli?

Kondisi pasar adalah perilaku dari pelaku pasar tentang cara memandang suatu keadaan, untuk mengantisipasi pergerakan harga berdasarkan sentimen pasar. Perilaku ini di dasarkan pada analisa fundamental, teknikal dari sejarah pergerakan harga, laporan ekonomi, faktor musiman, peristiwa nasional serta global yang tercermin dari pergerakan di grafik harga.

Sebagai contoh pada saat di mana para pelaku pasar mengharapkan harga bergerak turun, maka keadaan tersebut dikatakan memiliki sentimen bearish (turun). Begitu juga sebaliknya jika sentimen dikatakan bullish (naik), adalah keadaan di mana para pelaku pasar mengharapkan harga bergerak naik.

Sentimen pasar dapat dikatakan sebagai indikator kontrarian, yaitu kebalikan dari sesuatu keadaan. Contohnya jika banyak orang berharap kenaikan harga, maka oleh sentimen akan dilawan dengan arah penurunan harga.  Sentimen pasar disebut juga sebagai sentimen investor, di mana keputusannya belum tentu selalu didasarkan pada analisa fundamental.

Sentimen pasar dipantau dengan menggunakan sejumlah indikator teknikal serta statistik harga dalam periode tertentu. Indikator sentimen di tampilkan dengan dua keadaan seperti bullish dan bearish, buy dan sell atau long dan short.

Open Position Ratio Panduan Trading

 

Beberapa broker forex menyediakan indikator sentimen untuk nasabahnya, di mana menampilkan rasio posisi buy dan sell dari nasabah broker yang bersangkutan atau dikenal dengan istilah Open Position Ratio.

Hal ini dikarenakan pasar forex adalah pasar bilateral (tidak tersentralisasi), jadi hasilnya bisa berbeda untuk setiap broker. Tujuan disediakannya indikator sentimen ini untuk membantu nasabah untuk mengetahui kondisi pasar (Market Conditions).

 

Open Position Ratios

The percentage of open positions held for major currency pairs relative to all positions for major currency pairs. The open position ratio is used in forex trading, and includes both long and short positions.

Indikator sentimen ditampilkan dalam bentuk persentase atau data utama yang mewakili jumlah perbandingan antara pihak pembeli dengan penjual pada sebuah pasangan mata uang. Sebagai contoh terdapat 100 orang bertransaksi mata uang EURUSD. Sebanyak 79 orang melakukan aksi jual, sedangkan 21 orang melakukan aksi beli, maka jumlah yang melakukan aksi jual pada simbol EURUSD ditampilkan dengan angka 79% sedangkan aksi beli 21%.

Berikut beberapa contoh tampilan Open Position Ratio pada beberapa broker :

Contoh tampilan Open Position Ratio 1:

Open Position Ration MIFX
Sumber: MIFX

 

Contoh tampilan Open Position Ratio 2:

Open Position Ration Oanda 02
Sumber: OANDA

 

Contoh tampilan Open Position Ratio 3:

Open Position Ratio Dukascopy
Sumber: SWFX

 

Open Position Ratio tidak dapat digunakan sebagai pedoman penghasil sinyal jual serta beli secara tepat, hanya berfungsi sebagai gambaran umum tentang kondisi pelaku pada pasangan mata uang pada broker tertentu. Hasilnya akan berbeda antara sebuah broker yang satu dengan yang lainnya.

Dalam hal ini tidak ada yang dianggap lebih baik. Fungsi lain indikator sentimen adalah untuk melihat potensi pembalikan harga pada level ekstrim. Sebagai contoh perbandingan antara pembeli dengan penjual 90 di banding 10, yang artinya sudah berada pada level ekstrim.

Harga level ekstrim ini bervariasi untuk setiap pasangan mata uang. Level ekstrim menandakan akan terjadi pembalikan harga. Pembalikan ini belum tentu terjadi dalam waktu dekat, membutuhan waktu tertentu.

 

Bagaimana Menggunakan Open Position Ratio?

Perlu diketahui bahwa Open Position Ratio bukan indikator untuk menentukan keputusan buy atau sell, namun untuk melihat kondisi pasar. Analisa teknikal seperti Support Resistance sangat baik membantu untuk menentukan Target Harga / Price Target.

Open position ratio suatu pair mata uang yang berimbang biasanya memiliki prosentase buy dan sell kisaran 35% hingga 65% . Namun, ketika telah terjadi pergerakan yang sangat kuat dalam satu arah, open position ratio bisa menjadi sangat tidak seimbang antara buy dan sell-nya. Dan selama kondisi ekstrim inilah, kita dapat menentukan pembalikan harga suatu pair mata uang.

Sebagai contoh pair mata uang memiliki rasio yang cukup esktrim saat tulisan ini dibuat adalah USDCAD. Rasio sell adalah sebesar 7% dan rasio buy sebesar 93%. Ini adalah kondisi pasar yang cukup ekstrim. Dengan dasar inilah, kontrarian trader dapat bersiap-siap mengambil posisi yang berlawanan dengan pasar.

 

Open Position Ration MIFX 02

 

Yang perlu diperhatikan adalah mengambil posisi yang berlawanan dengan pasar tidaklah mudah untuk menentukan waktu yang tepat. Dibutuhkan indikator lainnya yang dapat membantu dalam menentukan waktu tepat untuk membuka posisi. Jangan sampai terjebak dalam situasi pasar yang masih ekstrim, selain itu hal yang tak kalah penting adalah persiapan antisipasi apabila salah prediksi.

Beberapa broker menyediakan layanan Open Position Ratio yang dapat diakses oleh umum tanpa harus membuka akun terlebih dahulu. Anda dapat melihat Open Position Ratio di broker Oanda secara gratis.

 

Problem terbesar yang paling sering dialami (terutama trader pemula) terlalu cepat mengambil profit dan terlalu lama menahan loss. Hal ini menjadi momok yang membuat orang “kapok” memulai usaha di bidang online trading.

Apabila Anda salah satu orang yang mengalami tersebut, gunakanlah indikator Pivot Point. Indikator Pivot Point akan membantu anda untuk menentukan level-level kunci pergerakan harga dengan mudah.

Penjelasan Pivot Point

Salah satu teknik trading terbaik adalah menggunakan garis Pivot (Pivot Point). Teknik ini digunakan oleh sebagian besar profesional trader.

Pivot point juga digunakan Bank Sentral untuk menentukan seberapa jauh harga sebuah instrumen keuangan di pasar akan diintervensi (level intervensi).

Nah, materi kali ini akan memberikan panduan penggunaan pivot point untuk meningkatkan performa trading anda.

Pivot point adalah indikator yang memiliki kelompok level harga, digunakan untuk mengidentifikasi “tipping points” (titik-titik pembalikan trend) di market.

Dengan menggunakan pivot point identifikasi tipping points di market cukup mudah dengan hasil yang akurat.

Memberikan probabilitas entry dan exit yang lebih tinggi untuk menghasilkan keuntungan dan manajemen risiko yang lebih baik.

Pivot Point dan Repaint Indicator

Saat ini indikator yang ada terdiri dari 2 kategori, yaitu: leading dan lagging indikator, sering disebut juga repaint indicator karena dianggap terlalu lambat dan terlalu cepat.

Lagging indikator artinya ketinggalan (terlalu lambat). Biasanya harga bergerak lebih dulu, baru indikator mengikuti dengan membentuk sinyal. Contoh dari lagging adalah Moving Average.

Sedangkan leading indikator terlalu awal mengetahui sinyal trend, contohnya adalah indikator jenis Oscillator.

Indikator pivot point termasuk indikator non-repaint yang secara otomatis menghitung nilai garis Support dan Resistance yang ditampilkan pada chart.

Pivot point sangat baik digunakan untuk mengenali posisi entry dan memilih target yang jelas.

Garis Level Pivot juga berfungsi untuk memfilter fake signal dari indikator standar (contoh MACD, Stochastic, RSI, Moving Average) dan sangat efektif untuk mengindentifikasi kondisi pasar.

Menggunakan Pivot Point

Sebenarnya tidak ada aturan baku menggunakan indikator Pivot Point, indikator ini dapat dikombinasikan dengan indikator dan strategi trading lainnya.

Penggunaannya tinggal disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan dan risk profile.

Pivot point dibagi menjadi (menurut interval waktu):

  • Daily (Harian)
  • Weekly (Mingguan)
  • Monthly (Bulanan) dan
  • Yearly (Tahunan)

Menurut metode penghitungannya dibagi:

  • Classic / Traditional
  • Fibonacci
  • Woody
  • Camarilla
  • De Mark

Dimana menghasilkan level atau garis support dan resistance yang berbeda-beda. Penentuan jenis pivot point apa yang akan digunakan tergantung dengan kebutuhan dan strategi trading yang digunakan.

Misalnya untuk strategi trading intraday (day trade) lebih sesuai menggunakan pivot point daily atau weekly.

Untuk strategi positioning trading dengan menahan posisi sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lebih sesuai menggunakan jenis pivot point monthly dan yearly.

teknik intraday trading pivot point cover
 

Penjelasan Teknik Intraday Trading dengan Pivot Point

Contoh berikut adalah setting pivot point untuk intraday trading.

Kali ini saya ingin menjelaskan dengan menggunakan platform TradingView.com dimana sudah tersedia built in indicator yang cukup lengkap.

Untuk platform Metatrader 4 harus ditambahkan indikator Pivot Point. Penjelasan penggunaan, setting dan instalasinya dapat dilihat pada artikel:

Indikator Pivot Point untuk Meta Trader 4 (MT4) 

Berikut ini contoh setting indikator pivot point untuk teknik intraday trading:

  1. Pivot point yang digunakan untuk teknik trading intraday adalah Daily pivot point dengan timeframe 15 menit.
  2. Menggunakan kombinasi dua pivot point, dengan penghitungan metode Fibonacci (garis merah muda pada chart dibawah) dan De Mark (garis biru pada chart dibawah).
  3. Apabila menggunakan strategi breakout trading, indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah indikator break high dan break low (garis putus-putus atau titik-titik pada chart dibawah).
  4. Entry posisi di jam-jam tertentu saja, misalnya untuk mata uang EURUSD bisa entry posisi di antara jam 13.00 WIB, 14.00 WIB dan 15.00 WIB.
  5. Materi market session dan jam trading terbaik sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya Open Market Session, Jam Trading Forex. Anda dapat menggunakan acuan jam trading untuk entry posisi.
Berikut ini contoh tampilannya:
eurusd breakout intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada EURUSD

Dari chart diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa harga bergerak menuju level-level tertentu (pada contoh harga bergerak dari garis resistance R1, garis tengah P dan garis support S1).

Dengan menggunakan pivot point, anda dapat menentukan level entry dan price target (exit) dengan mudah.

Untuk pengambilan posisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu menggunakan strategi Pullback / Retracement dan Strategi Breakout.

Contoh Pengambilan posisi dengan Strategi Pullback / Retracement. Entry Sell dapat dilakukan di garis sekitar R1, setelah terjadi pembalikan ke atas (panah warna biru paling atas).

Untuk strategi Breakout, pengambilan posisi Entry Sell dilakukan pada saat harga bergerak disekitar garis pivot warna biru (De Mark) setelah pergerakan harga terkonfirmasi menembus harga low sebelumnya.

Pertimbangan pengambilan posisi didasarkan atas:

  1. Market Sentiment
  2. Analisa pergerakan harga di sekitar garis pivot.

Price Target atau Take Profit di garis atau level pivot dibawah. Atau bisa juga menahan posisi sebelum masuk ke sesi berikutnya. (antisipasi terjadinya pembalikan harga).

Untuk penentuan Take Profit ini tergantung pada risk reward, karena masing-masing trader memiliki profil risk reward yang berbeda-beda.

Penempatan Stop Loss dapat menggunakan acuan dari Analisis Volatilitas Autochartist Expert Advisor dan Web Application atau menggunakan indikator Average Daily Range (ADR).

Secara umum, pivot point berfungsi sebagai garis otomatis level Supply (Sell) and Demand (Buy), anda tidak perlu repot membuat perkiraan garis Supply & Demand.

Contoh Lainnya:
gbpusd breakout intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada GBPUSD
audusd breakout intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada AUDUSD (Sesi Asia)

Perhatikan chart diatas, pada sesi Australia (Asia) terjadi gap down pada awal pembukaan market. Strategi trading yang dapat digunakan adalah strategi gap trading.

Open buy ketika harga menyetuh level support (S1) dan Close posisi di garis Pivot (P). Strategi ini termasuk strategi Pullback / Retracement.

Selanjutnya…
usdjpy breakout intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada USDJPY (Sesi Asia)
usdcad breakout intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada USDCAD (Sesi Amerika)

Entry atau Take Profit sebaiknya dilakukan sekitar garis level pivot (support, resistence dan pivot) jangan entry jika tidak disekitar garis level pivot karena harga akan bergerak liar (belum maksimal mencapai harga terendah untuk Buy dan tertinggi untuk Sell).

Indikator pivot point dapat digunakan dan dapat bekerja dengan pada jenis instrumen lainnya seperti Stock Index. Berikut contohnya:

uk100 intraday trading
Contoh Teknik Pivot Point pada Index FTSE100
Pivot Point dan Level Intervensi Bank Sentral
Level Intervensi Bank Indonesia

Pivot point juga digunakan oleh Bank Sentral untuk mengintervensi mata uang atau instrumen keuangan lainnya. Contoh diatas adalah level intervensi Bank Sentral Indonesia (BI) untuk mata uang Rupiah.

Intervensi mata uang biasa dilakukan oleh Bank Sentral di sebuah negara yang menganut sistem (Currency Regime) Managed Float dan Fixed Exchange Rate.

Untuk mengintervensi sebuah mata uang tentunya sebuah Bank Sentral menggunakan cadangan devisa. Apa yang terjadi apabila Bank Sentral tidak lagi bisa menggunakan cadangan devisanya membendung pelemahan atau penguatan sebuah mata uang?

Pivot Point pada Aplikasi Autochartist

autochartist usdjpy horizontal

Pivot point dapat digunakan sebagai pedoman batas titik entry Open Posisi BUY/SELL serta Take Profit dengan metode Price Action atau menggunakan acuan indikator lainnya untuk menentukan arah pergerakan harga.

Dapat juga dikombinasikan dengan aplikasi Autochartist dengan analisa Chart Patterns / Fibonacci Patterns / Key Levels Approaches / Breakouts.

Aplikasi Autochartist memudahkan kita untuk mengidentifikasi level-level penting pergerakan harga. Level-level penting akan diindentifikasikan secara otomatis.

Sinyal Autochartist berjenis garis horizontal (Key Level Approach dan Breakout) mampu mengidentifikasi garis pivot (support dan resistance) secara otomatis.

Sinyal trading ini memiliki success rate yang cukup tinggi dibandingkan dengan kategori sinyal Chart Pattern maupun Fibonacci Pattern.

Performa Statistik sinyal trading garis horizontal (Key Level Approach) Autochartist memiliki success rate diatas 80% yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:

key level approcah statistic

Teknologi keuangan dapat membantu kita untuk mengukur tujuan (profit) dan kalkulasi risiko dengan jelas.

Gunakan aplikasi yang dapat membantu untuk mengukur kinerja portfolio anda, jangan sekedar menggunakan “feeling” ketika bertransaksi di pasar.

Indentifikasi Kondisi Pasar

Tidak selamanya kondisi pasar menguntungkan bagi trader, tentunya teknik trading dengan pivot point ini terdapat kelemahan pada kondisi pasar tertentu, seperti contoh berikut ini.

djia intraday trading
Contoh kondisi pasar Sideways pada Index Dow Jones Industrial

Kondisi pasar Sideways / Coiling / Konsolidasi memang kondisi pasar yang tidak menguntungkan untuk teknik intraday. Pergerakan harga hanya bolak-balik dalam range tertentu, ini dapat membingungkan trader yang masuk ke pasar.

Pivot point juga dapat membantu anda dalam indentifikasi pasar. Anda dapat melihat arah trend dengan jelas.

Untuk menghasilkan profit yang konsisten dibutuhkan manajemen risiko / keuangan yang baik. Ketahanan dana juga menjadi faktor penting untuk dapat meraih winning trades.

Trader ataupun investor yang mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten memiliki sistem pengelolaan keuangan yang baik.

market sentiment intraday

Selain itu perhatikan juga faktor market sentiment yang akan terjadi pada hari itu. Untuk teknik intraday trading, sentiment yang bersifat short term (macro economic news event) wajib untuk diperhatikan.

Pergerakan harga di pasar didasari oleh antisipasi akan sebuah peristiwa (baik yang bersifat macro economic event maupun political event) yang akan terjadi.

Demikian penjelasan singkat mengenai Teknik Intraday Trading dengan menggunakan indikator Pivot Point.

Dari sekian banyak indikator yang tersedia, Moving Average (MA) adalah indikator trend yang paling populer. Banyak kesalahan pada penggunaan indikator ini, terutama bagi trader pemula.

Moving Average sebenarnya dapat menjadi indikator yang powerfull jika dapat menggunakannya dengan tepat.

Moving Average (MA) adalah yang paling sederhana diantara indikator teknikal lainnya, biasanya dihitung dari penjumlahan harga penutupan pada suatu periode tertentu dibagi dengan jumlah satuan waktu pada periode tersebut.

Jika harga bergerak uptrend, kurva MA akan bergerak keatas, dan sebaliknya pada saat pergerakan harga downtrend, kurva ma akan bergerak kearah bawah.

Yang perlu dipahami adalah Moving Average termasuk dalam indikator repaint atau lagging indicator, sehingga terdapat kelemahan untuk memprediksi harga secara akurat.

Penggunaan MA untuk memprediksi harga tidak dapat digunakan secara terpisah dengan indikator lainnya. Anda memerlukan alat bantu tambahan apabila menggunakan strategi MA baik untuk memprediksi arah harga dan menggunakannya sebagai acuan entry level.

Meskipun termasuk repaint indicator, MA adalah salah satu indikator paling ideal yang dapat digunakan pada kondisi pasar trending.

Ada 3 cara dalam menggunakan indikator MA yang dianggap cukup efektif, yaitu sebagai penyaring arah trend (trend filter), sebagai pemicu (trigger) untuk membuka posisi dan identifikasi titik perpotongan (crossover) untuk konfirmasi terjadinya koreksi atau pembalikan arah trend (trend reversal).

penggunaan indikator moving average

 

Manakah yang Lebih Baik EMA atau SMA?

Indikator Moving Average dibagi menjadi 2 kategori yaitu Exponential Moving Average (EMA) dan Simple/Smoothed Moving Average (SMA). Perbedaan keduanya terletak pada kecepatan perubahan arah.

EMA lebih cepat dalam memberikan indikasi adanya perubahan trend harga. Penggunaan EMA dapat memberikan bobot lebih kepada data terkini sehingga dapat memberikan sinyal yang lebih cepat.

Dari kedua jenis indikator MA tersebut (SMA dan EMA) tidak ada istilah lebih baik, keduanya memiliki peran masing-masing dan digunakan sesuai dengan kebutuhan pada saat menyusun strategi.

 

Setting Periode dan Aturan Entry Moving Averages

Supaya tidak terjebak dalam penggunaan indikator Moving Average, Anda harus menentukan terlebih dahulu tujuan penggunaan indikator ini. Misalnya, trader berjenis day trading membutuhkan sinyal yang lebih cepat. Untuk itu penggunaan Exponential Moving Average (EMA) lebih tepat dibandingkan dengan Simple Moving Average (SMA).

Nah dalam artikel ini secara khusus saya ingin mencoba memberikan contoh penggunaan EMA untuk day trading.

penggunaan-moving-averages

  • Setting EMA Periode Lebih Pendek (8)
  • Setting EMA Periode Pendek (21)
  • Setting EMA Periode (125)

Penjelasan setting periode EMA (8, 21, 125): Setting periode ini cukup populer digunakan oleh trader institusional (hedge fund dan investment bank). Merupakan Sekuen dari Fibonacci Number. Periode ini dapat dikatakan mewakili data Seminggu, Sebulan dan Semester.

Namun yang lebih penting adalah Kombinasi dari penggabungan (Multiple) periode tersebut dapat bekerja dengan baik.

Contoh Entry dengan EMA (8, 21, 125)

penggunaan-moving-averages-02

Contoh diatas adalah aturan entry dengan strategi EMA (8, 21, 125) pada Time Frame M30. Entry dilakukan saat garis EMA 8 dan 21 memotong (crossover).

Selama EMA 8 (garis warna hijau) dan 21 (garis warna kuning) masih berada di bawah EMA 125 (garis warna merah) berarti posisi yang diambil adalah sell. Entry buy diambil ketika garis EMA 8 dan EMA 21 berada di atas EMA 125.

Dari chart diatas dapat diihat strategi ini dapat memberikan kapan timing entry baik (buy ataupun sell) dan peringatan akan pembalikan trend yang cukup akurat.

Strategi ini juga dapat digunakan pada timeframe yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan akurasi pada penggunaan strategi EMA (8,21,125) dapat ditambahkan indikator lainnya seperti contoh berikut:

Indentifikasi Level Kunci (Key Level)

penggunaan-moving-averages-03

 

Indentifikasi Level Teknikal untuk Menentukan Price Target

penggunaan-moving-averages-05

Contoh diatas adalah kombinasi indikator yang dapat meningkatkan kualitas strategi EMA (8,21,125). Selain itu, faktor market sentiment juga akan mempengaruhi kemana arah pergerakan harga.

Selalu perhatikan faktor market sentiment baik yang bersifat short term maupun long term.

Anda juga dapat mengkombinasikan strategi trading EMA dengan indikator lainnya. Saya pribadi menggunakan indikator Moving Average EMA 125, market sentiment, pivot high low dan kombinasi analisis pergerakan harga di level support resistance (key level) dengan aplikasi Autochartist untuk mengembangkan strategi Breakout dan Pullback/Retracement.

moving-average-125-breakout-pullback-retracement
Contoh Pengembangan Strategi EMA125 pada Pergerakan Harga Gold Spot (XAUUSD)

 

Strategi EMA (8,21,125) dapat menjadi startegi yang powerfull jika Anda dapat menggunakannya dengan tepat.

 

Salah satu cara untuk memprediksi arah pergerakan harga adalah dengan sebuah metode yang populer yaitu analisa teknikal. Pada dasarnya Analisa teknikal menggunakan grafik (chart) pergerakan harga historis untuk memprediksi arah harga dimasa yang akan datang.

Semua pasar keuangan menghasilkan data tentang pergerakan harga pasar dalam berbagai periode waktu. Data ini kemudian ditampilkan dalam grafik pada layar monitor.

Analisa Teknikal mengasumsikan grafik harga mencerminkan tindakan (action) dari semua pelaku pasar yang terlibat dalam perdagangan dalam periode waktu tertentu.

Untuk memahami lebih jelas tentang Strategi Price Action kita akan memulai dari pemahaman tentang grafik pergerakan harga. Pergerakan harga dapat dilihat dalam sebuah grafik, dengan grafik inilah kita akan mulai mengidentifikasi bagaimana perilaku pasar.

Contoh di bawah adalah grafik pair currency GBP/USD, pada Time Frame Weekly yang ditampilkan tanpa indikator. Melihat grafik pergerakan harga secara langsung (tanpa tambahan indikator) tentunya akan membingungkan terutama jika Anda ingin mengambil posisi, baik buy (long) atau sell (short). Pada grafik harga berikut terdapat 2 trend dengan 2 arah yang berbeda (uptrend dan downtrend), namun masih sulit untuk menganalisisnya.

gbpusd-chart

Inilah fungsi dari indikator teknikal yang akan membantu menganalisa pergerakan harga. Namun sayangnya tidak ada indikator teknikal yang 100% akurat dalam memprediksi arah pergerakan harga. Indikator teknikal menggunakan data historis untuk memprediksi arah pergerakan harga di masa yang akan datang. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah perilaku pasar di waktu yang akan datang akan sama seperti di masa lalu? Disinilah peran Price Action yang akan menjadi senjata tambahan yang membantu memprediksi arah pergerakan harga.

Price Action adalah pergerakan harga suatu aset atau suatu pair mata uang. Analisa Price Action adalah sebuah metode dimana investor dan trader berupaya menemukan (pattern) pola dalam pergerakan harga yang sepintas nampak acak (random).

Price Action mencerminkan semua variabel yang mempengaruhi pasar dalam periode waktu tertentu, termasuk data dan berita ekonomi. Peristiwa dan berita ekonomi seperti yang biasa dilihat dalam Economic Calendar (sentimen pasar) adalah katalis untuk pergerakan harga di pasar.

Pergerakan harga yang tercermin dalam Price Action menyediakan semua sinyal yang anda butuhkan untuk mengembangkan sistem trading yang menguntungkan dan memiliki probabilitas tinggi.

Sinyal-sinyal inilah yang secara kolektif menjadi metode Price Action. Karena itu ketersediaan data, analisis dampak peristiwa dan pemahaman perilaku pasar akan membantu menghasilkan strategi trading dengan tingkat akurasi tinggi.

Aplikasi Dasar Analisa Price Action

Supaya tidak terjerumus ke dalam malpraktik trading dengan Price Action, Anda terlebih dulu harus memahami bahwa Price Action pada dasarnya digunakan hanya sebagai alat bantu, dan bukan sebagai penentu final.

Jadi, maksudnya bagaimana?

Pergerakan harga pada chart umumnya akan selalu meninggalkan jejak-jejak dengan titik-titik harga yang patut Anda pertimbangkan sebelum membuka atau mengakhiri posisi. Garis besarnya, Price Action digunakan sebagai “kaca pembesar” untuk membantu mengidentifikasi kondisi pasar (trending atau konsolidasi) dan di mana titik-titik penting resisten dan support kemungkinan akan mempengaruhi arah harga kembali.

Langkah-Langkah Price Action

1. Identifikasi Kondisi Pasar

Kondisi pasar umumnya terbagi atas dua macam; trending dan terkonsolidasi (sideways). Price action dapat membantu kita mengidentifikasi kondisi-kondisi tersebut dengan memperhatikan harga-harga High dan Low-nya.

Contoh pada chart pair currency GBP/USD Time Frame Weekly.

gbpusd-uptrend-downtrend

Kondisi pasar trending sendiri dibagi lagi menjadi dua macam; uptrend dan downtrend. Uptrend dapat diidentifikasi dari titik harga tinggi meninggi (HH, higher highs) dan harga rendah meninggi (HL, higher lows). Sedangkan Downtrend teridentifikasi dari harga tinggi merendah (LH, lower highs) dan harga rendah merendah (LL, lower lows).

Masih pada chart yang sama, pair currency GBP/USD namun dalam ditampilkan dalam Time Frame yang lebih kecil yaitu Daily.

gbpusd-uptrend-high

gbpusd-downtrend

Kesulitan untuk menentukan di mana posisi HH, HL, LH dan LL-nya karena posisinya “zig-zag”? Jika iya, maka saat itu Anda sedang menghadapi kondisi pasar terkonsolidasi (sideways).

gbpusd-sideways-konsolidasi

Proses identifikasi kondisi pasar di atas dapat membantu keputusan trader untuk membuka posisi berdasarkan gaya trading serta manajemen risiko. Misalnya, Trend trader mengidentifikasi peluang ketika harga diekspektasikan akan menembus sebuah tahanan (support atau resisten).

Trend trader biasanya akan bertahan dalam satu posisi sampai ekspektasi tren pergerakan harga berubah. Sementara swing trader memanfaatkan harga yang bergerak volatil dalam sebuah rentang area atau range. Swing trader melihat potensi beli pada support dan jual pada resisten.

2. Identifikasi Titik Support dan Resistance

Poin penting kedua dari aplikasi price action adalah untuk mengetahui titik-titik harga support, resistance dan key level.  Analisa level kunci (key level) atau tingkat konfluen pasar digunakan untuk setup Price Action dalam mengambil posisi.  Titik-titik harga tersebut vital kegunaannya karena keberlangsungan suatu trend kemungkinan besar akan kembali berhaluan arah karena sifat pasar yang “berulang”.

Karena sifat berulang pelaku pasar dan cara mereka bereaksi terhadap variabel ekonomi global, Price Action cenderung terulang dalam berbagai pola. Kemudian pola-pola inilah disebut dengan strategi Price Action.

gbpusd-support-resistance

Pola-pola pergerakan harga yang berulang atau setup Price Action mencerminkan perubahan atau kelanjutan sentimen pasar. Hal ini berarti dengan mempelajari Price Action akan bisa mendapatkan prediksi kemana arah harga berikutnya.

Untuk memulai belajar Price Action dapat menggunakan analisa support dan resistance dan kemudian mencari setup atau pola Price Action yang terjadi. Contoh pada chart pair currency GBP/USD, Time Frame Daily setelah event Brexit.

contoh-key-level-gbpusd

Contoh diatas ketika GBP/USD mengalami Flash Crash awal bulan Oktober 2016 ini. Dengan menggunakan Price Action setidaknya model ini memberikan peringatan kepada kita untuk tidak mengambil posisi buy (long) ketika harga membentuk low baru. Kesalahan yang sering terjadi dalam mengambil posisi adalah harga tampak sudah sangat murah (ambil buy), padahal dengan menggunakan analisa Price Action kita bisa terhindar dari kesalahan pengambilan posisi.

Anda dapat mengembangkan strategi Break Out dan Reversal yang akurat dengan Identifikasi pergerakan pada Support dan Resistance. Untuk penjelasan Support dan Resistance akan dijelaskan pada artikel berikutnya.

3. Gunakan Trading Tools dalam Mengidentifikasi Key Level

Untuk mempermudah dalam pengambilan keputusan sebenarnya banyak trading tools pendukung yang dapat dimanfaatkan. Untuk trader yang ingin belajar Price Action dapat menggunakan tools pendukung seperti AUTOCHARTIST dan DELKOS yang dapat mengidentifikasi Key Level, Pola Harga, Sentimen Pasar dan Analisis Volatilitas harga secara otomatis. Tidak perlu menentukan secara manual level-level penting dalam sebuah chart untuk menghindari kesalahan penghitungan.

autochartist-key-level-01

autochartist-key-level-02
Tampilan Key Level pada Autochartist Web Application

Strategi Price Action dapat digunakan pada banyak instrumen keuangan seperti forex, komoditi, indeks dan saham. Trading tools yang tersedia saat ini pun sangat membantu dalam menganalisis arah pergerakan harga. Anda tidak perlu repot-repot menghitung manual level-level penting (key level) pada grafik pergerakan harga.