Author

Panduan Trading

Browsing

Volatilitas harga yang tinggi saat trading kadang membuat kita takut untuk masuk ke pasar. Dengan semakin tinggi tingkat volatilitas justru semakin tinggi peluang untuk merah profit yang lebih banyak. Tentunya dengan semakin tinggi profit, maka semakin tinggi pula risikonya. Dalam dunia trading, risiko tidak dapat dieliminasi namun dapat dikelola.

Untuk mengelola keuangan saat volatilitas pasar tinggi diperlukan sebuah alat bantu yang akan membantu meminimalkan resiko. Persoalan tersebut dapat diatasi dengan mengkalkulasi risiko menggunakan Analisis Volatilitas Autochartist.

Perkiraan kisaran harga per jam dan beberapa hari ke depan bisa diperhitungkan. Dengan Analisis Volatilitas pada Autochartist, Anda tidak perlu lagi menghitung rata-rata pergerakan harga dalam periode waktu tertentu. Pergerakan harga di pasar keuangan berfluktuatif sehingga menimbulkan risiko transaksi karena pergerakan harga.

Untuk itu diperlukan kemampuan menganalisa pergerakan pasar yang penuh volatilitas. Dengan pemahaman akan volatilitas harga, anda dapat menentukan Target Profit (TP) dan level Stop Loss (SL) yang sesuai dengan kondisi pasar pada saat itu sehingga bisa mengelola risiko transaksi dengan lebih baik.

Pada artikel sebelumnya sempat dibahas sedikit tentang Analisis Volatilitas dengan menggunakan Autochartist Expert Advisor Plugin yang akan muncul pada platform Metatrader 4. Nah kali ini kita akan membahas tentang cara penggunaan salah satu fitur menarik dari Aplikasi Autochartist yaitu Analisis Volatilitas Autochartist versi web application.

Cara Menggunakan Autochartist Expert Advisor 20
Analisis Volatilitas Autochartist versi Expert Advisor Plugin

 

Dalam fitur Analisis Volatilitas Autochartist web application , trader bisa mendapatkan informasi mengenai:

  • Perkiraan Kisaran Harga (Price Range Forecast)
  • Pergerakan per Jam (Movement per Hour)
  • Pergerakan per Hari (Movement per Day)

Sebelum menggunakan fitur Analisis Volatilitas, pastikan zona waktu yang dipilih di Autochartist web application adalah Asia/Jakarta.

Kemudian dalam fitur tersebut, kita memilih instrumen yang akan ditampilkan. Misalnya dalam contoh ini GBPUSD.

analisis-volatilitas-web-application
Tampilan Autochartist Web Application

 

Perkiraan Kisaran Harga

Di dalam fitur Perkiraan Kisaran Harga, ekspektasi pergerakan kisaran harga untuk GBPUSD ditampilkan pada interval waktu mulai dari 15 menit hingga 24 jam (daily) ke depan pada hari dan jam tertentu.

Pada contoh ini tampak kisaran harga GBPUSD pada waktu 4 jam tertulis level bawah 1.2145 dan level atas 1.2264. Ini berarti ada ekspektasi harga untuk selang waktu 4 jam ke depan akan berada di kisaran tersebut. Hal ini berlaku juga untuk selang waktu lainnya.

analisis-volatilitas-gbpusd-01
Tampilan Analisis Perkiraan Kisaran Harga pada Autochartist Web Application

 

Pergerakan per Jam

Selain ekspektasi pergerakan kisaran harga untuk selang waktu tertentu, Analisis Volatilitas juga menampilkan kisaran pergerakan harga berdasarkan jam dalam 1 hari.

Ini memberikan informasi bahwa di jam X biasanya akan terjadi pergerakan sebesar Y.

Pergerakan per jam ini memperlihatkan volatilitas yang berbeda-beda pada sesi trading yang berbeda.

Kisaran pergerakan pada sesi Asia berbeda dengan sesi Eropa dan Amerika.

Dengan informasi pergerakan per jam ini, Anda bisa mengelola posisi transaksinya dengan lebih baik.

Range harga per jam dapat diketahui dengan lebih mudah. Trader intraday dapat menempatkan stop loss dan target profitnya dengan menggunakan panduan ini.

Hal lain yang tak kalah penting adalah sentimen pasar, pergerakan harian sangat dipengaruhi oleh peristiwa atau rilis berita saat itu.

Kombinasi pemahaman analisis teknikal dan fundamental adalah penting untuk meningkatkan skill trading, terutama trader intraday.

analisis-volatilitas-gbpusd-02
Tampilan Rata-Rata Pergerakan Per Jam GBPUSD pada Autochartist Web Application

 

Pergerakan Harian

Fitur Analisis Volatilitas Autochartist juga dapat menampilkan kisaran pergerakan harga untuk 5 hari dalam 1 minggu. Dengan informasi ini kita dapat mengetahui kira-kira kisaran maksimum pergerakan dalam 1 hari. Dan ini bisa dijadikan sebagai peringatan kemungkinan adanya pembalikan arah pasar jika kisaran harian sudah tercapai.

analisis-volatilitas-gbpusd-03
Tampilan Analisis Pergerakan Harian Autochartist Web Application

 

Hal penting lainnya jangan lupa untuk tetap memperhatikan level-level kunci (key level) dalam grafik pergerakan harga. Key level inilah yang akan membantu memprediksi arah pergerakan harga.

gbpusd-key-level-01

gbpusd-key-level-02
Key Level GBPUSD pada Autochartist Web Application

Apapun gaya trading Anda, Analisis Volatilitas Autochartist ini dapat menjadi pelengkap terutama untuk mengelola manajemen risiko/keuangan lebih baik. Selain itu juga dapat digunakan sebagai panduan dalam menyusun aturan Money Management pada Aplikasi Otomatisasi Trading Tradeworks.

Dengan Analisis Volatilitas ini Anda dapat menentukan berapa stop loss dan target profit yang ingin dicapai dengan lebih baik.

 

 

Kebijakan Bank Sentral Dunia mulai menarik untuk dicermati akhir-akhir ini, tak terkecuali Bank Indonesia (BI). Pada bulan Agustus yang lalu, Bank Indonesia mengumumkan formula baru suku bunga acuan perbankan, yakni BI 7-day Reverse Repo Rate atau BI 7-day Rate.

Kebijakan ini adalah pertama kali BI sebagai bank sentral melakukan perubahan kebijakan yang tampak radikal, dan itu tentu membuat bingung para investor (jangankan ‘BI 7-day Reverse Repo Rate’, sebagian dari kita mungkin bahkan belum mengerti apa itu ‘BI Rate’).

Artikel ini mencoba menjelaskan apa itu BI 7-day Rate serta “kemungkinan” pengaruhnya terhadap bagi perbankan dan perekonomian nasional.

Sebelum menggunakan BI 7-day Rate, selama ini BI menggunakan BI Rate sebagai patokan atau acuan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia (sehingga BI Rate ini disebut juga ‘suku bunga acuan’).

Simpelnya jika BI rate naik dari 6.25% menjadi 6.50%, maka bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembaga keuangan lainnya juga bisa naik. Patokan ini hanya bersifat rujukan dan bukan merupakan peraturan, sehingga tidak mengikat ataupun memaksa. Jadi para bank boleh saja menaikkan bunga pinjaman kepada orang yang mengajukan kredit dengan alasan BI Rate naik, namun bunga deposito atau tabungan bagi para nasabahnya bisa jadi malah tidak naik sama sekali.

Sementara bagi BI sendiri, BI Rate adalah suku bunga bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk jangka waktu satu tahun, yang disalurkan ke bank-bank. Ketika BI rate naik ke 6.50%, maka para bank bisa menaruh dana mereka di BI dalam bentuk SBI, dan akan menerima bunga 6.50% per tahun. Jadi kalau Bank Mandiri menempatkan uang tabungan nasabahnya sebesar Rp10 trilyun di BI, maka setelah satu tahun, mereka akan memperoleh Rp675 milyar tanpa perlu ‘apa-apa’ sama sekali.

Selama ini BI menggunakan SBI untuk operasi moneter, dalam hal ini menambah atau mengurangi jumlah mata uang Rupiah (money supply) yang beredar di masyarakat. Jadi ketika jumlah uang yang beredar terlalu banyak, dan itu menaikkan inflasi, maka BI akan menaikkan BI Rate, dengan asumsi para bank tentunya akan lebih suka menaruh dana tabungan nasabah mereka di BI (dalam bentuk SBI) daripada menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Alhasil, money supply akan turun, dan inflasi juga akan turun.

Kemudian, apabila inflasi sudah aman terkendali, maka BI Rate bisa kembali diturunkan, sehingga bank-bank akan kembali menyalurkan kredit ke masyarakat, perusahaan bisa mendirikan pabrik dan membuka lapangan kerja baru, dan itu pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun disinilah persoalannya: Meski BI Rate turun, namun dana milik bank yang sudah terlanjur disetor ke BI baru akan bisa ditarik kembali satu tahun kemudian. Sehingga ketika BI Rate turun, maka money supply tidak akan serta merta langsung naik lagi, melainkan harus nunggu dulu selama beberapa bulan hingga satu tahun, sehingga tujuan pertumbuhan ekonomi tadi akan perlu waktu untuk tercapai. Demikian pula ketika BI menaikkan BI Rate, maka tingkat inflasi tidak akan serta merta turun, karena para bank juga akan mikir-mikir kalau dana mereka harus mengendap di BI selama setahun.

Jadi agar operasi moneter yang dilakukan BI kedepannya menjadi lebih efektif dalam menyeimbangkan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi, maka kemudian diberlakukanlah BI 7-day Rate ini, dimana jika BI 7-day Rate ini naik, maka para bank bisa menempatkan dana mereka di BI selama tujuh hari saja (atau 14 hari, 21 hari, dan seterusnya). Jadi jika di bulan berikutnya BI 7-day Rate turun, maka pihak bank akan bisa langsung menarik dananya dan menyalurkannya ke masyarakat.

Suku bunga 7-day ini disebut juga ‘reverse repo rate’, karena dalam hal ini BI sebagai ‘bank-nya para bank’ adalah seperti meminjam dana dari bank dengan janji akan dikembalikan 7 hari kemudian, plus bunga sebesar yang sudah ditentukan sebelumnya.

Pendek kata, BI nantinya akan lebih mudah dalam mengendalikan jumlah mata uang Rupiah yang beredar di masyarakat, dan sudah tentu harapannya adalah bahwa inflasi otomatis menjadi lebih terkendali, kurs Rupiah akan lebih stabil, dan pertumbuhan ekonomi akan lebih kencang. Sebenarnya di masa lalu sebelum tahun 2010, penggunaan BI Rate sudah cukup efektif untuk operasi moneter, dimana tingkat inflasi dll relatif bisa dikendalikan dengan baik.

Namun sejak 2010, dana asing mulai masuk dalam jumlah besar ke Indonesia, yang menyebabkan perputaran dana di pasar uang antar bank (PUAB) menjadi lebih cepat, dan alhasil tingkat suku bunga di PUAB ini menjadi sangat rendah karena sebuah bank terkadang memegang sejumlah dana hanya dalam hitungan harian, sebelum ‘dioper’ lagi ke bank lain (semakin pendek jangka waktu penyimpanan dana, maka semakin rendah bunganya).

Rendahnya suku bunga di PUAB ini pada akhirnya turut mempengaruhi tingkat suku bunga perbankan secara keseluruhan, sementara BI Rate tidak lagi begitu diperhatikan karena jangka waktunya dianggap terlalu lama, yakni 1 tahun (sementara suku bunga di PUAB bahkan bisa berlaku untuk jangka waktu 1 hari, alias overnight).

Jadi dengan digunakannya BI 7-day Rate sebagai suku bunga acuan yang baru, dimana bank bisa membeli SBI hanya untuk tenor 7 hari saja, maka bank akan kembali tertarik untuk menempatkan dananya dalam bentuk SBI, karena jangka waktu 7 hari tentunya tidak terlalu lama dibanding jangka waktu di PUAB, dan BI akan kembali memiliki kontrol efektif terhadap tingkat suku bunga perbankan di Indonesia,

Lalu bagaimana dampak perubahan suku bunga acuan ini terhadap kinerja perbankan?

Karena jangka waktunya lebih pendek, maka otomatis BI 7-day Rate akan selalu lebih rendah dibanding BI Rate. Contohnya seperti saat ini dimana BI Rate berada di level 6.50%, sementara BI 7-day Rate 5% (tapi 5% tersebut tetap dihitung untuk satu tahun, sehingga kalau sebuah bank membeli SBI dan langsung menjualnya 7 hari kemudian, maka bunga yang didapat hanya 0.10%).

Kesan yang timbul dari kebijakan ini bahwa BI telah menurunkan suku bunga acuan secara drastis, sehingga bank-bank juga akan menurunkan bunga kredit dan deposito, padahal tidak. BI Rate akan tetap di level 6.50%, kecuali BI menaikkan atau menurunkannya, demikian pula halnya dengan BI 7-day Rate akan tetap berada di level 5% kecuali BI menaikkan atau menurunkannya.

bi-rate

 

bi-7-day-rate

 

Dengan demikian, maka para bank tidak perlu mengubah tingkat bunga kredit maupun deposito-nya (kecuali jika nanti BI Rate ini diturunkan/dinaikkan, demikian pula dengan BI 7-day Rate). Apabila nanti tujuan penggunaan BI 7-day Rate ini tercapai, dimana inflasi menjadi lebih terkendali, nilai tukar Rupiah menguat (kalau inflasi terlalu tinggi, maka itu juga bisa menurunkan kurs Rupiah), dan ekonomi tumbuh lebih kencang, maka tentu perbankan akan diuntungkan.

Kemudian, karena BI akan kembali memiliki kontrol efektif terhadap tingkat suku bunga perbankan di Indonesia, maka meski kedepannya dana asing masuk lebih banyak lagi ke tanah air, entah itu karena pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), berpindahnya investasi dari Bursa Singapura ke Bursa Indonesia, hingga ditariknya aset-aset milik konglomerat dari luar negeri, maka tingkat suku bunga perbankan akan tetap stabil dan tidak terpengaruh, dimana para bank hanya perlu berpatokan pada BI 7-day Rate dalam menentukan bunga kredit dan deposito, tanpa perlu melihat perubahan suku bunga di PUAB.

Nah, jika tingkat suku bunga menjadi lebih stabil, maka otomatis proses penyaluran kredit dll juga akan lebih mudah, dan risiko terjadinya kredit macet karena perubahan suku bunga yang tiba-tiba, juga akan menjadi lebih rendah.

Seluruh perubahan diatas baru akan benar-benar berpengaruh terhadap kinerja perbankan dan perekonomian dalam jangka panjang, atau paling cepat beberapa bulan kedepan.

 

 

Sumber:  Bank Indonesia, Teguh Hidayat

Salah satu cara untuk memprediksi arah pergerakan harga adalah dengan sebuah metode yang populer yaitu analisa teknikal. Pada dasarnya Analisa teknikal menggunakan grafik (chart) pergerakan harga historis untuk memprediksi arah harga dimasa yang akan datang.

Semua pasar keuangan menghasilkan data tentang pergerakan harga pasar dalam berbagai periode waktu. Data ini kemudian ditampilkan dalam grafik pada layar monitor.

Analisa Teknikal mengasumsikan grafik harga mencerminkan tindakan (action) dari semua pelaku pasar yang terlibat dalam perdagangan dalam periode waktu tertentu.

Untuk memahami lebih jelas tentang Strategi Price Action kita akan memulai dari pemahaman tentang grafik pergerakan harga. Pergerakan harga dapat dilihat dalam sebuah grafik, dengan grafik inilah kita akan mulai mengidentifikasi bagaimana perilaku pasar.

Contoh di bawah adalah grafik pair currency GBP/USD, pada Time Frame Weekly yang ditampilkan tanpa indikator. Melihat grafik pergerakan harga secara langsung (tanpa tambahan indikator) tentunya akan membingungkan terutama jika Anda ingin mengambil posisi, baik buy (long) atau sell (short). Pada grafik harga berikut terdapat 2 trend dengan 2 arah yang berbeda (uptrend dan downtrend), namun masih sulit untuk menganalisisnya.

gbpusd-chart

Inilah fungsi dari indikator teknikal yang akan membantu menganalisa pergerakan harga. Namun sayangnya tidak ada indikator teknikal yang 100% akurat dalam memprediksi arah pergerakan harga. Indikator teknikal menggunakan data historis untuk memprediksi arah pergerakan harga di masa yang akan datang. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah perilaku pasar di waktu yang akan datang akan sama seperti di masa lalu? Disinilah peran Price Action yang akan menjadi senjata tambahan yang membantu memprediksi arah pergerakan harga.

Price Action adalah pergerakan harga suatu aset atau suatu pair mata uang. Analisa Price Action adalah sebuah metode dimana investor dan trader berupaya menemukan (pattern) pola dalam pergerakan harga yang sepintas nampak acak (random).

Price Action mencerminkan semua variabel yang mempengaruhi pasar dalam periode waktu tertentu, termasuk data dan berita ekonomi. Peristiwa dan berita ekonomi seperti yang biasa dilihat dalam Economic Calendar (sentimen pasar) adalah katalis untuk pergerakan harga di pasar.

Pergerakan harga yang tercermin dalam Price Action menyediakan semua sinyal yang anda butuhkan untuk mengembangkan sistem trading yang menguntungkan dan memiliki probabilitas tinggi.

Sinyal-sinyal inilah yang secara kolektif menjadi metode Price Action. Karena itu ketersediaan data, analisis dampak peristiwa dan pemahaman perilaku pasar akan membantu menghasilkan strategi trading dengan tingkat akurasi tinggi.

Aplikasi Dasar Analisa Price Action

Supaya tidak terjerumus ke dalam malpraktik trading dengan Price Action, Anda terlebih dulu harus memahami bahwa Price Action pada dasarnya digunakan hanya sebagai alat bantu, dan bukan sebagai penentu final.

Jadi, maksudnya bagaimana?

Pergerakan harga pada chart umumnya akan selalu meninggalkan jejak-jejak dengan titik-titik harga yang patut Anda pertimbangkan sebelum membuka atau mengakhiri posisi. Garis besarnya, Price Action digunakan sebagai “kaca pembesar” untuk membantu mengidentifikasi kondisi pasar (trending atau konsolidasi) dan di mana titik-titik penting resisten dan support kemungkinan akan mempengaruhi arah harga kembali.

Langkah-Langkah Price Action

1. Identifikasi Kondisi Pasar

Kondisi pasar umumnya terbagi atas dua macam; trending dan terkonsolidasi (sideways). Price action dapat membantu kita mengidentifikasi kondisi-kondisi tersebut dengan memperhatikan harga-harga High dan Low-nya.

Contoh pada chart pair currency GBP/USD Time Frame Weekly.

gbpusd-uptrend-downtrend

Kondisi pasar trending sendiri dibagi lagi menjadi dua macam; uptrend dan downtrend. Uptrend dapat diidentifikasi dari titik harga tinggi meninggi (HH, higher highs) dan harga rendah meninggi (HL, higher lows). Sedangkan Downtrend teridentifikasi dari harga tinggi merendah (LH, lower highs) dan harga rendah merendah (LL, lower lows).

Masih pada chart yang sama, pair currency GBP/USD namun dalam ditampilkan dalam Time Frame yang lebih kecil yaitu Daily.

gbpusd-uptrend-high

gbpusd-downtrend

Kesulitan untuk menentukan di mana posisi HH, HL, LH dan LL-nya karena posisinya “zig-zag”? Jika iya, maka saat itu Anda sedang menghadapi kondisi pasar terkonsolidasi (sideways).

gbpusd-sideways-konsolidasi

Proses identifikasi kondisi pasar di atas dapat membantu keputusan trader untuk membuka posisi berdasarkan gaya trading serta manajemen risiko. Misalnya, Trend trader mengidentifikasi peluang ketika harga diekspektasikan akan menembus sebuah tahanan (support atau resisten).

Trend trader biasanya akan bertahan dalam satu posisi sampai ekspektasi tren pergerakan harga berubah. Sementara swing trader memanfaatkan harga yang bergerak volatil dalam sebuah rentang area atau range. Swing trader melihat potensi beli pada support dan jual pada resisten.

2. Identifikasi Titik Support dan Resistance

Poin penting kedua dari aplikasi price action adalah untuk mengetahui titik-titik harga support, resistance dan key level.  Analisa level kunci (key level) atau tingkat konfluen pasar digunakan untuk setup Price Action dalam mengambil posisi.  Titik-titik harga tersebut vital kegunaannya karena keberlangsungan suatu trend kemungkinan besar akan kembali berhaluan arah karena sifat pasar yang “berulang”.

Karena sifat berulang pelaku pasar dan cara mereka bereaksi terhadap variabel ekonomi global, Price Action cenderung terulang dalam berbagai pola. Kemudian pola-pola inilah disebut dengan strategi Price Action.

gbpusd-support-resistance

Pola-pola pergerakan harga yang berulang atau setup Price Action mencerminkan perubahan atau kelanjutan sentimen pasar. Hal ini berarti dengan mempelajari Price Action akan bisa mendapatkan prediksi kemana arah harga berikutnya.

Untuk memulai belajar Price Action dapat menggunakan analisa support dan resistance dan kemudian mencari setup atau pola Price Action yang terjadi. Contoh pada chart pair currency GBP/USD, Time Frame Daily setelah event Brexit.

contoh-key-level-gbpusd

Contoh diatas ketika GBP/USD mengalami Flash Crash awal bulan Oktober 2016 ini. Dengan menggunakan Price Action setidaknya model ini memberikan peringatan kepada kita untuk tidak mengambil posisi buy (long) ketika harga membentuk low baru. Kesalahan yang sering terjadi dalam mengambil posisi adalah harga tampak sudah sangat murah (ambil buy), padahal dengan menggunakan analisa Price Action kita bisa terhindar dari kesalahan pengambilan posisi.

Anda dapat mengembangkan strategi Break Out dan Reversal yang akurat dengan Identifikasi pergerakan pada Support dan Resistance. Untuk penjelasan Support dan Resistance akan dijelaskan pada artikel berikutnya.

3. Gunakan Trading Tools dalam Mengidentifikasi Key Level

Untuk mempermudah dalam pengambilan keputusan sebenarnya banyak trading tools pendukung yang dapat dimanfaatkan. Untuk trader yang ingin belajar Price Action dapat menggunakan tools pendukung seperti AUTOCHARTIST dan DELKOS yang dapat mengidentifikasi Key Level, Pola Harga, Sentimen Pasar dan Analisis Volatilitas harga secara otomatis. Tidak perlu menentukan secara manual level-level penting dalam sebuah chart untuk menghindari kesalahan penghitungan.

autochartist-key-level-01

autochartist-key-level-02
Tampilan Key Level pada Autochartist Web Application

Strategi Price Action dapat digunakan pada banyak instrumen keuangan seperti forex, komoditi, indeks dan saham. Trading tools yang tersedia saat ini pun sangat membantu dalam menganalisis arah pergerakan harga. Anda tidak perlu repot-repot menghitung manual level-level penting (key level) pada grafik pergerakan harga.

Apakah anda ingin menahan sebuah posisi terbuka pada transaksi spot untuk forex dan komoditi? Kemudian bagaimana caranya? anda akan dikenakan atau mendapatkan swap. Swap adalah bunga yang dikenakan atau yang didapat oleh nasabah untuk menahan posisi terbuka hingga hari berikutnya. Swap otomatis akan dikenakan pada akhir hari perdagangan, pada saat perdagangan musim panas ditutup pukul 04.00 WIB dan perdagangan musim dingin ditutup pukul 05.00 WIB.

Tentu saja swap hanya dikenakan pada produk keuangan yang ditransaksikan dengan menggunakan leverage (instrumen keuangan high risk high reward), seperti forex dan komoditi logam mulia (emas dan perak).

Bisa dikatakan swap adalah biaya transaksi yang timbul karena penggunaan leverage, sedangkan untuk produk keuangan yang ditransaksikan tanpa leverage tidak ada biaya swap seperti produk saham, surat utang atau reksa dana.

Pada produk rolling spot seperti forex dan komoditi logam mulia, tanggal settlement paling lama 2 hari, sehingga untuk membiarkan posisi tetap terbuka akan dikenakan swap. Sedangkan untuk produk yang mengacu pada kontrak berjangka yang tanggal jatuh temponya di akhir bulan (seperti minyak mentah dan indeks saham) tidak memerlukan swap bila posisi terbuka setiap hari. Dan posisi terbuka saat jatuh tempo (exporation date) akan dikenakan penyesuaian (rollover).

Yang perlu diperhatikan adanya ketentuan khusus swap pada hari Rabu, yaitu perhitungan swap akan dihitung tiga hari (beban swap 3 kali). Ketentuan ini sebagai kompensasi dari pasar yang ditutup akhir pekan. Pada perdagangan hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat nilai swap akan dikenakan masing-masing satu hari. Tingkat suku bunga yang berbeda-beda di tiap negara mempengaruhi nilai swap yang dikenakan. Daftar nilai swap baru dikeluarkan setiap hari Senin.

Besar kecilnya swap juga akan bergantung pada jumlah lot, jenis, serta harga penutupan sebuah produk. Sebagai contoh:

 

Perhitungan swap pada Major Currency:

Buka posisi buy 1 lot AUDUSD pada hari Senin.

Swap yang berlaku untuk AUDUSD: Posisi Buy 0.25% (swap long); Posisi Sell -3,25% (swap short). Harga closing AUDUSD pada hari Senin = 0.70030

Perhitungan swap:

(0.25% (swap long) ) / (360 hari) x 1 lot x 100.000 satuan kontrak x 0.70030 (harga closing) = 0.49 USD.

Khusus untuk mata uang dengan USD sebagai first currency (seperti USDJPY, USDCHF, dan USDCAD), perhitungan akan sama namun tanpa memasukkan harga closing.

 

Perhitungan swap pada Cross Currency

Buka posisi Sell 1 lot GBPJPY dan masuk pada hari Rabu sehingga perhitungan swap menjadi 3 hari. Swap yang berlaku minggu ini untuk GBPJPY Buy -1% (swap long) dan Sell -2% (swap short). Harga closing GBPJPY 169.19, closing USDJPY 102.04.

Perhitungan swap:

[(-2% (swap short)) / (360 hari) x 1lot x 100.000 satuan kontrak x 169.14 (harga closing)] / 102.04 (harga closing USDJPY) x 3 (swap Rabu) = 27.6 USD

 

Perhitungan swap pada Emas:

Open Buy 1 lot XAUUSD pada hari Senin. Swap yang berlaku minggu ini untuk XAUUSD: Buy -1.5% (swap long) & Sell -1.5% (swap short). Harga closing XAUUSD 1306.80.

Perhitungan swap :

(-1.5% (swap long) ) / (360 hari) x 1 lot x 100 satuan kontrak x 1306.80 (harga closing) = -5.45 USD

Dengan adanya beban Swap, maka salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah berapa lama anda akan menahan posisi dan berapa besar jumlah lot yang digunakan. Jangan sampai beban swap anda menggerus modal yang digunakan dalam bertransaksi.

 

Apabila Anda trading menggunakan aplikasi yang secara otomatis akan memberitahu dan atau mengeksekusi transaksi ketika sinyal buy atau sell muncul, maka sistem trading Anda termasuk dalam mechanical trader. Demikian pula jika Anda menerapkan berbagai indikator teknikal, atau kombinasi antara indikator dan price action yang menghasilkan sinyal trading.

Sebaliknya jika Anda mengandalkan feeling atau intuisi untuk entry atau exit, berarti Anda trading dengan sistem discretionary. Trading dengan sistem discretionary lebih didasarkan pada pengalaman dan tidak terlalu mengandalkan indikator teknikal. Trading berdasarkan berita fundamental (murni mengandalkan peristiwa dan rilis data) bisa dikatakan discretionary. Diantara kedua sistem trading tersebut manakah yang lebih menguntungkan? Mari kita simak keuntungan dan kekurangan dari kedua sistem ini.

 

1. Sistem Trading Mechanical

Keuntungan sistem trading mechanical adalah:

Saat ini trading mechanical sudah biasa dilakukan berkat bantuan teknologi komputer dan jaringan internet. Dengan trading mechanical berbagai macam teknik bisa diatur dan terapkan dengan mudah. Performa dari sebuah strategi pun dapat dilihat dengan mudah dengan melakukan beberapa pengujian.

Saat ini penggunaan aplikasi otomatisasi trading sudah mulai marak digunakan. Aplikasi otomatisasi trading menawarkan banyak pilihan strategi yang dapat digunakan.  Bentuknya macam-macam, ada yang kompleks dalam penggunaannya dan ada pula yang memang didesain khusus untuk pengguna awam yang tidak terlalu mengerti tentang bahasa pemrograman Aplikasi.

Dari pengujian mundur (backtest) ataupun ke depan (forward test) dapat diketahui performa trading seperti probabilitas risk dan reward, drawdown (penurunan modal) dan tingkat akurasi sinyal. Selain itu trading anda menjadi lebih tersistematis dan tidak melibatkan emosi dan opini. Sinyal trading pada sistem Anda akan langsung memberi tahu Anda kapan mesti entry atau exit, selain itu anda lebih disiplin dalam menerapkan manajemen risiko.

Jika sibuk dengan pekerjaan lainnya Anda tidak harus sering memonitor pasar, karena eksekusi trading bisa dilakukan secara otomatis. Yang perlu Anda lakukan adalah dengan mengatur parameter atau indikator, terapkan manajemen risiko dan Anda dapat meninggalkan meja komputer sementara sistem trading sudah bekerja secara otomatis.

 

Kekurangan sistem trading mechanical:

Trading Mechanical bisa menjadi rumit tergantung seberapa banyak paramater yang digunakan untuk membangun strategi. Apalagi jika sudah menyangkut dengan penggunaan High Frequency Trading (HFT) yang multikompleks yang banyak dipakai oleh Hedge Fund ataupun Investment Bank ternama dengan biaya untuk membangun sistem tersebut bisa mencapai ratusan juta dollar.

Hasil backtest yang dihasilkan tidak selalu akan akurat untuk kondisi pasar saat ini. Pasar selalu berubah dengan komponen yang acak (random). Pola pergerakan harga pasar bisa mirip, tetapi tidak persis sama. Angka harapan profit adalah sebuah probabilitas dan tidak pasti. Sebuah aplikasi trading atau sistem mechanical yang sebelumnya berjalan baik belum tentu bisa profitable bila diterapkan pada kondisi pasar saat ini.

 

2. Sistem Trading Discretionary

Keuntungan sistem trading discretionary:

Sangat mudah untuk beradaptasi dengan keadaan pasar terkini. Jika Anda sudah terbiasa dengan berbagai pola pergerakan harga dan trend, maka Anda akan bisa melakukan analisa dengan cepat, dan dengan mudah bisa menyesuaikan keadaan tanpa harus pusing mencari-cari indikator yang paling cocok.

Karena ditunjang oleh pengalaman, secara psikologis Anda akan puas dengan keputusan yang Anda ambil, terlepas dari hasil yang akan Anda peroleh.

Anda bisa belajar dari waktu ke waktu sambil menambah pengalaman dan wawasan Anda dalam trading, seperti misalnya peristiwa atau rilis data apa saja yang probabilitasnya paling tinggi dan lain sebagainya.

 

Kekurangan sistem trading discretionary:

Diperlukan waktu cukup lama untuk belajar dan membangun pengalaman guna mengetahui kondisi pasar dengan instan dan akurat. Diperlukan wawasan ekonomi makro secara global.

Bagi trader pemula sistem trading ini bisa akan membingungkan terutama jika tidak memiliki dasar pemahaman ekonomi makro yang mumpuni. Jika pengetahuan mereka masih minim, maka akan lebih menjurus ke gambling.

Lalu sistem mana yang lebih menguntungkan? Tidak ada yang bisa mengklaim sistem Mechanical atau Discretionary yang paling bagus.  Sebuah sistem atau strategi yang paling tepat harus disesuaikan dengan profil resiko masing-masing individu. Adapun investor atau trader yang menggabungkan keduanya.

Ketika kita melakukan analisis, sebenarnya kita ingin memprediksi arah harga ke depan dengan mempelajari perilaku pasar. Strategi, indikator ataupun expert advisor adalah tools yang digunakan untuk membantu untuk pengambilan keputusan transaksi. Tidak ada satu pun indikator, strategi ataupun tools yang memiliki tingkat akurasi hingga 100% dalam memprediksi pergerakan harga. Beda trader profit dan loss terletak pada pemahaman, jam terbang dan kedisiplinan dalam penerapan manajemen risiko.